Perahu kertas begitu dekat
Seakan itu hanya sebuah aturan
yang bahwa,
berbelok pun serasa tak ada jalan
Manusia kadang merasa,
punya banyak hak dan melupakan kewajiban
Tak ada yang sempurna
Ketika kita merasa itu kurang
Ada saat sulit,
ketika jalan tak terlihat lagi
Barat yang memang selalu barat
Merahnya itu tak pernah pudar
Kita memang,
terlalu banyak memiliki dinding
yang terlalu tangguh untuk dirobohkan
Bila kekuatan tak mampu menahan beban
Kita selalu bersembunyi
meringkuk menyesal dan berkata tak mampu
Butuh waktu berapa lama biar kuat?
Semua tak ada yang abadi kecuali Tuhan
Sekarang atau nanti sama saja
Kita bisa merubah,
tetapi tidah berubah
Di sekeliling tak perduli,
tetapi bukan berarti tak perduli
Beban itu ringan ketika menjadi kapas
tetapi tak semudah membalik telapak tangan
Kita masih punya jalan,
tetapi waktu takkan pernah,
menunggu kita jalan
Jalan itu tidak selalu lurus
Terlalu mahal bila jalan halus
Kadang ada lubang
Kadang terlalu banyak
Tetapi kita mampu berjalan
Begitu juga dengan tembok,
yang terlalu kokoh itu
Hanya saja kamu harus yakin
Kita bakal kembali ke satu titik
dan waktu tak akan pernah meninggalkan kita
Ada yang pergi dan ada yang datang
kita memang sendiri, satu, AKU
vietha sakti
dari Perahu Kertas
di ujung tidur siangku, kamis, 1 april 2013