Kamis, 11 April 2013

memori dari Perahu Kertas

Perahu kertas begitu dekat
Seakan itu hanya sebuah aturan
yang bahwa,
berbelok pun serasa tak ada jalan
     Manusia kadang merasa,
     punya banyak hak dan melupakan kewajiban
     Tak ada yang sempurna
     Ketika kita merasa itu kurang
Ada saat sulit,
ketika jalan tak terlihat lagi
     Barat yang memang selalu barat
     Merahnya itu tak pernah pudar
Kita memang,
terlalu banyak memiliki dinding
yang terlalu tangguh untuk dirobohkan
     Bila kekuatan tak mampu menahan beban
     Kita selalu bersembunyi 
     meringkuk menyesal dan berkata tak mampu
Butuh waktu berapa lama biar kuat?
Semua tak ada yang abadi kecuali Tuhan
Sekarang atau nanti sama saja
     Kita bisa merubah,
     tetapi tidah berubah
     Di sekeliling tak perduli, 
     tetapi bukan berarti tak perduli
Beban itu ringan ketika menjadi kapas
tetapi tak semudah membalik telapak tangan
     Kita masih punya jalan,
     tetapi waktu takkan pernah,
     menunggu kita jalan
Jalan itu tidak selalu lurus
Terlalu mahal bila jalan halus
     Kadang ada lubang
     Kadang terlalu banyak
     Tetapi kita mampu berjalan
     Begitu juga dengan tembok,
     yang terlalu kokoh itu
Hanya saja kamu harus yakin 
Kita bakal kembali ke satu titik
dan waktu tak akan pernah meninggalkan kita
     Ada yang pergi dan ada yang datang
     kita memang sendiri, satu, AKU
                                   vietha sakti
                                   dari Perahu Kertas
           di ujung tidur siangku, kamis, 1 april 2013